AKULAH PENYANTET GUGUN GONDRONG, berguru pada Penyakit dan Sakit

•November 12, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sahabat “maya” saya menulis tentang betapa dahsyatnya akibat yang ditimbulkan oleh kanker payudara. Sungguh benar mulia engkau ! Menginformasikan kepada kita semua mulai dari gejala awal yang sangat tidak disadari oleh banyak wanita. Dari banyak kasus – katanya lagi – ternyata wanita baru tersadar setelah penyakit itu telah mengerogoti payudaranya pada fase membahayakan dan menjadi salah satu mesin pembunuh yang tidak pernah gagal.

Juga masih hangat dalam benak kita betapa publik terutama kalangan artis dibuat kaget dan terhenyak. Seorang karib kita dari kalangan selebriti dengan sejuta kegiatan , Muhamad Gunawan Hendromartono, atau Gugun Gondrong demikian namanya tenar, tiba-tiba tak sadarkan diri. Seorang presenter,mantan Cover Boy 90an pujaan wanita, reporter, aktivis muda PDIP sampai “komandan” The Jakmania dianugerahi sakit. Tumor otak mengintervensi sistem memori dalam kepalanya. Beberapa saat ia koma dan tak mengenali siapapun.

Betapa banyak kalangan artis, selebriti dan kalangan lain seprofesi tidak percaya dengan apa yang Gugun alami. Tidak juga Kak Seto. Tokoh yang memimpin Komisi Perlindungan Anak ini tau persis siapa Gugun. Beliau sangat mengikuti perkembangan Gugun dari mulai anak-anak sampai saat dewasa ini. Lalu ada ustadz muda yang ganteng dan brilian, Ustadz Jefri AlBuchori namanya. Sahabat karib Gugun ini sempat mengunjungi Gugun yang terbaring lemas di sebuah Rumah Sakit elit di Singapura.

Semua bersedih, semua tak percaya. Orang sejujur dia, orang sebersih dan setulus dia, Tuhan menganugerahkan sakit kepadanya. Apalagi kami-kami yang penuh gelimang dosa. Atau apakah sakit Gugun seperti juga profesinya adalah khalifah jua. Adalah semacam bahasa komunikasi Tuhan yang kita dituntut untuk memahaminya.

Lalu sahabat-sahabat artis berkumpul menggalang dana untuk sekedar membantu meringankan biaya perobatan yang tidak murah. Sungguh indah model persahabatan mereka. Sedang kita saja sekedar mengeluarkan sepuluh ribu perak kalo ada tetangga perlu bantuan, mungkin perlu memanggil akuntan publik supaya “negara rumah tangga” kita tidak didera inflasi. Bagaimana mungkin, cuma gara-gara sepuluh ribu perak anak kita tidak sekolah, istri kita tidak jadi masak atau tertunda pembayaran rekening listrik, ya mending diambil langkah realistis : tidak usah nolong, nanti juga yang lebih mampu akan membantu !.  Dan uang pun terkumpul dalam satuan ratusan juta atau mungkin milyaran .

Tak kalah kreatif ada lagi yang mengaku menyantet Gugun. Entah atas dasar apa tokoh kita ini mencoba meyakini orang bahwa dialah sang penyantet. Bahkan orang-orang dalam peta geografi tapal kuda di wilayah timur Pulau Jawa harus rela disumpah pocong supaya orang lain tidak menganggapnya sebagai dukun santet. Satu lagi kita dapat pelajaran dari bangsa Indonesia, ternyata kejujuran memang masih ada meskipun untuk mengakui sebuah perbuatan setan. Entah benar atau salah. Dalam era Industrialisasi yang sedang menjamah rakyat Indonesia apapun bisa menjadi faktor produksi. Menjadi orang populer dan terkenal adalah cita-cita kolektif rakyat Indonesia, meskipun harus membuka aib sendiri dengan telanjang dimuka umum dan mempertontonkan setiap detil lekuk tubuhnya mengatasnamaka seni sampai memproklamirkan dirinya menjadi nabi. Sungguh tak ada yang sekreatif bangsaku sehingga matanya buta tak bisa membedakan mana esensi mana sensasi.

Lewat sebuah infotainment yang ditayangkan televisi swasta, saya menyaksikan Gugun ditandu dalam keadaan tak sadarkan diri, mulutnya tersumpal selang yang membantunya bernafas. Namun yang saya tangkap justru sebuah kehidupan dalam ketentraman. Bukan tanda-tanda yang lain. Mungkin saya mendramatisir, tapi sungguh saya berdoa bahwa apa yang Gugun alami adalah semacam religiusisasi. Semacam perhelatan besar yang diselenggarakan Tuhan melalui para malaikatNya.

Wahai Anna Marissa, jadilah engkau telaga untuk menampung kebesaran hati Gugun. Peluklah beliau, baringkan kepalanya dalam pelukan cinta kasihmu. Sedihlah hatimu,namun senyumlah ruhani ilahiyahmu. Karena Tuhanlah, bukan dokter atau ulama dan cendikiawan yang tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi.

Hari-hari belakangan ini, Gugun mulai sadarkan diri. Mulai bisa melambaikan tangannya  pada para wartawan dan kerabat yang mendampinginya meski harus istirahat sepenuhnya.

********

Sakit dan penyakit tidak pernah salah. Tuhan tidak pernah menginformasikan bahwa bagian tertentu dari neraka dikhususkan untukdihuni penyakit. Flu dan demam dineraka permukaan, sementara raja singa dan apalagi AIDS dibagian keraknya yang terpanas. Tidak. Tidak ada ancaman apapun dariNya untuk “suku bangsa” penyakit dari benua manapun.Penyakit hadir dalam kehidupan manusia sebagai salah satu bagian dari ciptaanNya. Sedang sakit -yaitu peristiwa menimpanya penyakit atau tidak berfungsinya unsur tertentu dalam metabolisme kesehatan manusia- dihadirkan kepada manusia sebagai kritik Tuhan atas manusia.

Kalau anak kita patah kakinya karena jatuh dari motor ketika ngebut, yang disembuhkan jangan hanya kakinya, tapi juga sikap mental dan pilihan gaya hidup yang membuat kakinya patah. Kaki patah itu merupakan manifestasi sunatullah, hukum sebab akibat, hukum atau tradisi penciptaan Tuhan atas kehidupan, tatkala ia dilanggar. AIDS jangan didemonstrasi, sebab AIDS tidak pernah salah dan berdosa. Yang harus diperbaiki adalah perilaku kebudayaan manusia yang menyebabkan letak atau maqom AIDS bergeser  menuju ancaman bagi manusia. Mari himpun dana bukan untuk pemberantasan AIDS, melainkan untuk memperbaiki kehidupan dan ahlak manusia serta untuk mengembalikan AIDS ke lokasinya semula. Lokasinya semula ?

Ya !. Kelereng itu untuk mainan anak-anak, tidak untuk melempar kepala siapapun, juga jangan sampai masuk usus. Oli jangan dicampur kopi. Asbak jangan dimasukkan kedalam kuping apalagi buat di sodokan ke tenggorokan. Itu semua soal proporsi. Kalau manusia melanggar hukum proporsi, bisa terjadi sakit dan muncul penyakit. AIDS itu juga soal proporsi saja. Ada model kebudayaan -yang hampir jadi peradaban- umat manusia yang merusak proporsi itu.

Tak hanya menyangkut “kasus perut”, tapi juga berkaitan denan segala wilayah kesehatan manusia. Dalam bidang politik, birokrasi, fungsionalisasi dan profesionalisasi, penerapan nilai-nilai dan hukum – kesadaran proporsi adalah pasal utama sehatnya sebuah masyarakat. Letak dan fungsi seorang gubernur, harus persis sama seperti letak dan fungsi hidung dan bibir. Kalau hidung diletakkan di pantat, kacaulah masyrakat dan negara. Apalagi kalau kaki difungsikan sebagai kepala, kepala malah dijadikan untuk alas kaki.

Sayang, ilmu kedokteran hanya mempelajari penyakit dan kurang melebarkan dirinya pada wilayah sakit. Apa bedanya ? Penyakit menuntut ilmu kedokteran untuk secara medis menguasai segala lika-likunya. Tapi untuk mempelajari “sakit” ia memerlukan ilmu sosial dan ilmu agama. Kita tidak hanya butuh tahu apa penyakit yang menimpa kita, tapi juga kenapa penyakit itu menimpa.Mungkin kehidupan kita kurang memenuhi syarat kesehatan. Tapi kurang memenuhi syarat kesehatan menurut siapa ? Menurut dokter ? Mentri Kesehatan ? Kitab Suci ? Pemulung ? Gubernur? Presiden ? atau siapa ? Syarat sehat saja sudah sangat subyektif. Menurut Bapak Presiden, makan tanpa cuci tangan dulu bisa menimbulkan penyakit dan ini pengalaman empiris beliau, tapi banyak pemulung yang makan tanpa sempat cuci tangan ternyata kondisi kesehatannya jauh diatas seorang Presiden. Sungguh indah hidup ini.

Dan tak satupun universitas di muka bumi ini yang bersedia menghabiskan waktunya untuk tuntutan semacam itu. Paling jauh ilmu kedokteran bekerjasama dengan psikologi dan psikologi yang dipelajari adalah pengetahuan eksklusif tentang gejala kejiwaan. Bukan tentang jiwa. sebab kalau kita mempelajari jiwa harus ada mata kuliah dan KKN Tariqat yang mengajak setiap mahasiswa secara empirik mengetahui dan mengalami pilah-pilah antara jiwa, sukma, nyawa, bathin, hatinurani, hati sanubari, hati kecil, hati besar, nafsu lawwamah, amarah…….dan beribu hal lagi. Itu semua tak tercakup oleh konvensi akademik yang kaum ilmuwan memenjarakan dirinya.

Kalau anak kita sakit, mungkin ia hanya ‘medium’ kritik Tuhan atas kehidupan kita. Terkadang kesembuhan badan kita bisa terkait dengan sejarah keruhanian dan psikologis kita dengan orang tua,kakek nenek, tetangga, genekologi. Bahkan kehidupan kita pun tidak bermula ketika kita lahir, melainkan sudah di “dimulai” ketika orang tua kita pacaran, oleh sifat pacaran, oleh sejarah masing-masing dari Bapak Ibu kita, oleh segala sesuatu yang kompleks di masa silam. Artinya, kita hanyalah sebuah effek dari suatu kompleksitas keadaan jauh sebelum kita “dirancang” untuk lahir. Sehingga sejumlah penyakit atau keadaan sakit, bisa dilacak kemungkinan sembuhnya jauh kebelakang.

Adapun Gugun sakit siapa yang salah. Sekali lagi wallahu ‘alam. Tapi saya yakin Gugun merupakan ‘medium kritik’ Tuhan  buat  kita-kita minimal bagi karib kerabat seprofesi. Ia adalah sebuah titik dari sublimasi keadaan zaman. Sesungguhnya jika Gugun sakit bukanlah  Gugun yang sakit. Ia kejernihan otak dan kebeningan hati, “mewakili” sakit yang lebih besar dari lingkungannya. Gugun adalah manusia yang sangat disayangi Tuhan, yang dipercaya untuk menjadi penyalur berbagai informasi. Beda dengan kita-kita yang  dilulu oleh-Nya. Semoga !

 * * * * * *

Kepada siapapun, dalam kebodohanku, jadikan aku muridmu dan berikan banyak ilmumu padaku !

Iklan

Hello world!

•September 3, 2008 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!